Jumat, 15 Maret 2013

Tak Terhargai

Setiap hari
Aku duduk didepan TV
Tak ada yang kukerjakan
Dan tak ada yang memberiku pekerjaan
Banyak tawaran pekerjaan di TV
Tapi tak ada satupun yang menerimaku
Ku iri pada tetanggaku
Yang setiap hari ke kantor
Ketika melihat anak SMA
Aku ingat masa masa itu
Saat itu ku selalu bercanda tawa
Ku biarkan waktu berjalan
Tanpa melakukan hal bermanfaat
Video game dan cinta cintaan
Tak pernah lepas dari genggamku
Tak pernah ku merasa kasihan
Pada buku buku yang menangis
Tak pernah ku sadari
Masa mudaku tak terhargai
Aku biarkan
Masa depanku suram tanpa arah
Andai bisa terlahir kembali
Aku tak akan menyiakan masa mudaku
Maafkan aku masa mudaku
Maafkan aku yang bodoh ini
Maafkan aku...

Sabtu, 02 Maret 2013

Lembaran Yang Disia-siakan


Hukuman yang diberikan
Oleh orang paling mulia disekolah
Membuatku tak percaya
Bunyi bel pulang terdengar
Teman temanku meninggalkan kelas

Tinggal aku sendiri disana
Ku menangis tak percaya
Ku goreskan pisau ditanganku
Semangatku yang tadinya berkobar

Lenyap seketika bagai ditelan angin
Hidup didunia begitu berat
Selalu ada sebab
Selalu ada akibat

Kelasku tercinta
Ku tak ingin menyalahkanmu
Meski orang selalu menyalahkanmu
Aku ingin menyalahkan mereka
Mereka yang selalu mencemarimu

Ku semprotkan tinta hitam
Ke papan tulis yang putih
Ku tak bisa menahan amarahku
Ku tak bisa menahan tangisku

Aku akui kau sama dengan kelas lain
Tapi para penghunimu
Tak sama dengan yang lain
Mereka tak mengerti
Semua kesedihanmu

Mereka tak tahu
Seperti apa semangatku
Yang berjuang meraih cita cita
Yang selalu serius belajar

Wahai kelasku tercinta
Apakah itu balasan yang kukerjakan
Apakah salah jika aku berusaha
Aku merasa aku menjadi
Lembaran yang disia siakan

Kubaca buku buku yang kubawa
Sambil menangis diam diam
Kupejamkan mataku
Kurangkai semua kata kata
Yang membuatku terhibur

Kututup pintu kelasku tercinta
Sambil mengucapkan sampai jumpa
Wahai kelasku
Doakan aku agar tak bertemu mereka
Dan berikan yang terbaik untukku tahun depan

Sebelum Jam Tujuh

Rintikan hujan pagi itu
Seakan menurunkan semangatku
Untuk pergi kesekolah
Makin lama makin deras
Seolah olah ingin mencelaku
Dengan berbekal payung dari ibu
Ku berlari sekuat tenaga
Ku tak ingin terlambat
Ku tak ingin dihukum
Aku berusaha datang
Sebelum jam tujuh
Ku ingin segera melihat
Cintaku disana
Ku ingin segera menyapa
Cintaku disana
Namun kuterjatuh ditengah jalan
Payungku terbang tertarik angin
Seragam kebanggaanku basah
Kulihat jam tangan yang basah
Lima menit lagi
Dalam hati ku berkata
Berjuanglah kau pasti bisa
Berjuanglah sebentar lagi telat
Ku tak ingin terlambat
Kuberlari sekuat tenaga
Hujan telah usai
Pintu gerbaang telah ditutup
Terpaksa kulompati
Dinding yang kokoh itu
Tapi apa daya kakiku terkilir
Pohon pohon bergoyang
Seolah memberiku semangat
Ku terus berlari
Walau kuterjatuh berkali kali
Semangat dan perjuanganku
Tak akan sia sia

Cemoohan Yang Terlupakan


Kubuka halaman demi halaman
Catatan kecil berlumuran darah
Kubaca semua yang kutulis
Tentang kisah pedih dimasa lalu

Status sosial yang berbeda
Membuat suasana sekolah bagai neraka
Kata kata nan indah
Kata kata halus dan pujian
Tak lagi kudengar

Kata kata kasar kotor
Dan cemoohan yang kudapat
Pernah aku mencoba menjadi burung
Yang terjatuh kelubang kematian

Tapi teriakan sang mentari
Membuatku takut kehilangan masa depan
Aku tahu setiap ada penderitaan
Akan ada masa depan dibalik itu
Tapi aku tak bisa bertahan

Aku tak mampu tuk tabah
Aku tak mampu tuk sabar
Aku tahu aku tak bisa terbang
Seperti burung diatas sana

Aku tak ingin seperti ini
Aku ingin mereka menggenggam tanganku
Aku ingin mereka memelukku
Aku ingin tertawa bersama mereka
Tapi tak ada yang mau mengerti

Ingin sekali aku mengadukan sakit ini
Tapi ku tak memiliki keberanian
Ingin sekali aku ceritakan keseluruh dunia
Tapi bibir ini tak dapat berucap

Ingin sekali kusampaikan pada mentari
Tapi dia terlalu jauh
Ingin kusampaikan pada leluhur
Tapi dia telah tiada
Kemanakah sakit ini kan tersampaikan

Sebaiknya aku menghilang
Tapi bukan berarti aku mati
Wahai orang orang
Lupakanlah daku dan cemoohan
Yang kau berikan padaku

Kututup catatan itu
Sambil menitikkan air mata
Wahai waktu
Aku mohon binasakanlah kenangan itu
Beserta catatan kecil berlumuran darah